Jika kita mengingat Firman Tuhan yang disampaikan dalam ibadah perdana, hari Minggu yang lalu, dengan tema “Sukacita Dalam Persekutuan”, bahwa persekutuan orang percaya adalah dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus, yang tentu juga dengan sesama. Dalam persekutuan itu kita dapat berbagi pengalaman hidup di dalam Yesus dan dapat belajar bagaimana mencintai sesama sebagai satu keluarga.
Tetapi terkadang kita dinilai sombong dan tidak berempati karena ketika kita lebih mengutamakan prioritas hidup kita. Mari kita coba renungkan kembali, apakah kita sudah menyampaikan dengan jujur apa yang menjadi kerinduan kita dan keadaan yang sedang kita alami?
Jika kita membaca Roma 15:22-23 “Itulah sebabnya aku selalu terhalang untuk mengunjungi kamu. Tetapi sekarang, karena aku tidak lagi mempunyai tempat kerja di daerah ini dan karena aku telah beberapa tahun lamanya ingin mengunjungi kamu,” (bisa dilanjutakan sampai ayat ke-30), Rasul Paulus yang mau menyampaikan kerinduannya dan keadaan yang sedang ia hadapi kepada jemaat di Roma.
Membaca ayat tersebut, tentunya kita mempunyai prioritas dalam hidup ini. Yang mengacu pada pilihan hidup, mengutamakan yang terpenting di antara yang penting. Tetapi, terkadang kita diperhadapkan pada pilihan antara Tuhan, pekerjaan, atau pun keluarga. Terlebih lagi, tawaran lain yang kerap kali membuat kita tergoda untuk berjalan di jalan yang menyimpang.
Rasul Paulus tidak kehilangan arah hidupnya. Baginya, hidup
adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Suratnya untuk jemaat di Roma, Rasul
Paulus dengan bijak dan lembut menyatakan kerinduannya untuk mengunjungi
mereka. Namun, karena terhalang sesuatu hal, Rasul Paulus belum dapat
berkunjung. Ada yang harus ia kerjakan sehingga ia tidak mengunjungi jemaat di
Roma. Tetapi, Rasul Paulus berharap akan dapat mengunjungi mereka dalam
perjalanannya. Bahkan Roma 15:30 mengatakan Rasul Paulus juga meminta dukungan
jemaat supaya ia dapat melayani di tempat yang akan ia kunjungi nanti.
Rasul Paulus menjelaskan bahwa masih ada tugas lain yang harus ia kerjakan. Hal itu menyiratkan kedekatan Paulus dengan mereka. Paulus bukan sekadar memberikan nasihat, tetapi ia juga mengajak mereka untuk sama-sama bergumul dalam doa kepada Allah.
Demikian bagi kita, mari kita menyatakan isi hati kita dengan jujur dan bijak, menetapkan prioritas hidup kita kepada Tuhan.
Tuhan Yesus memberkati.
Haleluya.
by. HT GPIBB
Terpujilah nama Tuhan.
BalasHapus